Beramal Tanpa Ilmu
Beramal tanpa Ilmu, Melahirkan Mudarat yang Lebih Besar daripada Manfaatnya
Seseorang yang berjalan dalam kegelapan, meski niatnya baik dan tujuannya benar, dapat saja tergelincir di sebuah lubang, menabrak batu, atau tersasar jauh dari jalan yang hendak ia tuju. Demikian pula orang yang beramal tanpa ilmu: semangatnya mungkin membara, tetapi arah dan ketepatannya tidak terjamin.
Seperti seorang petani yang menabur benih di tanah yang tidak diteliti, ia bisa saja menanam di ladang yang tandus atau gagal memerhatikan musim, sehingga usahanya menghasilkan kerugian lebih besar daripada panen yang diharapkan.
Begitu pula keadaan orang yang beramal tanpa bimbingan ilmu; kadang ia berniat memperbaiki, namun justru merusak lebih banyak tanpa ia sadari. Dari sinilah, kita harus memahami bahwa beramal tanpa ilmu, bukan hanya kurang sempurna, tetapi sering menjadi sumber kerusakan yang lebih besar daripada kebaikan.
Al-Hasan Al-Bashriy -rahimahullah- berkata,«طَلَبْنَا هَذَا الْأَمْرَ وَنَظَرْنَا فَلَمْ نَجِدْ أَحَدًا عَمِلَ عَمَلًا بِغَيْرِ عِلْمٍ إِلَّا كَانَ مَا يُفْسِدُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِحُ»الزهد لأحمد بن حنبل (ص: 234) (رقم: 1667)"Kami telah mencari dan meneliti perkara (agama) ini, maka kami tidak mendapati seorang pun yang melakukan suatu amal tanpa ilmu, kecuali sesuatu yang ia rusak lebih banyak daripada sesuatu yang ia perbaiki."Sumber: Az-Zuhd karya Imam Ahmad bin Hanbal, hlm. 234, no. 1667.
Pada akhirnya, setiap muslim yang menginginkan kebaikan yang sempurna, harus menyadari bahwa ilmu adalah penuntun yang menjaga langkah dari kesalahan dan penyimpangan. Amal yang dibangun di atas pemahaman yang benar akan tumbuh dengan kokoh, seperti bangunan yang didirikan di atas pondasi yang kuat.
Sebaliknya, amal yang dilakukan hanya dengan semangat tanpa panduan ilmu sering kali rapuh, mudah runtuh, dan bahkan dapat menyeret pelakunya kepada kerusakan yang tidak ia perhitungkan. Karena itu, siapapun yang ingin memperbaiki, menasehati, atau beribadah, dan beramal sholih, hendaknya ia memulai dengan menimba ilmu yang sahih sebagai bekal utamanya.
Nasihat Al-Hasan Al-Bashriy -rahimahullah- ini menjadi cermin bagi kita agar selalu mengukur amal dengan timbangan ilmu, dan tidak terburu-buru dalam berbuat sebelum memahami cara yang benar. Setiap langkah yang disinari ilmu akan lebih selamat, lebih tepat, dan lebih bermanfaat bagi diri sendiri maupun bagi orang lain.
Karenanya, mintalah pertolongan kepada Allah agar Dia menjadikan ilmu kita bermanfaat, amal kita diterima, dan langkah kita selalu berada di atas petunjuk. Sebab, barangsiapa yang diberi taufik kepada ilmu dan amal sekaligus, dialah yang telah meraih kebaikan yang sempurna.
Faedah dari Nasihat ini:
- Berikut beberapa faedah dari nasihat al-Hasan al-Bashri tersebut: Ilmu adalah syarat sah dan lurusnya amal. Tanpa ilmu, amal tidak memiliki pijakan dan mudah melenceng dari tuntunan syariat.
- Semangat saja tidak cukup. Banyak orang yang beramal dengan niat baik, namun ketika dilakukan tanpa ilmu, justru membawa kerusakan yang lebih besar.
- Kerusakan akibat kebodohan lebih besar daripada kerusakan akibat kemaksiatan. Karena, orang bodoh mengira dirinya benar, dan terus melanjutkan kesalahannya. Adapun orang yang bermaksiat, maka pintu tobat akan terbuka lebar baginya karena dia masih menyadari bahwa perbuatannya adalah perbuatan yang dibenci oleh Allah.
- Wajibnya berhati-hati sebelum bertindak. Orang yang memahami syariat tidak terburu-buru dalam beramal, tetapi menimbangnya berdasarkan dalil.
- Amal tanpa ilmu sering menghasilkan maslahat kecil, sedang di baliknya terdapat mafsadat dan kerusakan besar. Ini menunjukkan pentingnya menimbang dampak amal sebelum dilakukan.
- Ulama salaf sangat menekankan penelitian dan verifikasi terhadap suatu amalan yang akan ia tunaikan; apakah amalan itu didasari dengan dalil dari Al-Qur'an dan Sunnah, atau justru ia adalah amalan yang tidak pernah dicontohkan dan dikerjakan oleh Nabi -shallallahu alaihi wasallam- dan para sahabatnya. Betah gila bawa amalan yang tidak ada contoh dan dasarnya dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, maka dia adalah amalan sia-sia yang tidak akan diganjar dengan pahala, bahkan boleh jadi diganjar dengan dosa akibat melangkahi batas syariat.
- Tanda keikhlasan adalah mau belajar. Orang yang ikhlas ingin berbuat baik pasti memulai langkahnya dengan menuntut ilmu agar amalnya membuahkan kebaikan.
- Menjaga masyarakat dari kerusakan dimulai dari mengajarkan ilmu. Karena, sumber kerusakan terbesar bukan semata kejahatan, tetapi juga akibat tindakan tanpa petunjuk.
- Siapapun yang beramal tanpa ilmu, maka ia akan menanggung akibatnya. Ia mungkin tidak sadar, tetapi amalnya membawa bahaya bagi diri sendiri dan orang lain, seperti mereka meneriakkan jihad tanpa ilmu. Akhirnya, ia memerangi orang-orang yang tidak pantas diperangi menurut syariat dengan dalih jihad, tetapi tanpa didasari ilmu.
- Nasihat ini mendorong untuk terus belajar sepanjang hidup. Karena, selagi manusia beramal, ia tetap membutuhkan ilmu yang membimbingnya.
Gowa, 13 Jumadal Ula 1447 Hijriyah

Posting Komentar untuk "Beramal Tanpa Ilmu"