Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Empat Prinsip Akhlak Seorang Muslim





Rasulullah ﷺ adalah
Qudwah Hasanah (teladan yang baik) bagi setiap orang yang mengharapkan bertemu Allah dalam keadaan Allah ridha kepadanya serta mengharapkan kebahagiaan pada hari akhir. Beliau senantiasa membimbing umat ini kepada kebaikan.

Tidak ada satu amalan yang mendekatkan seorang hamba kepada surga Allah ﷻ kecuali telah dijelaskan oleh Rasulullah ﷺ. Dan tidak ada sesuatu yang dapat menjerumuskan ke dalam api neraka kecuali Rasulullah ﷺ telah memberikan peringatan agar menjauhinya.

Allah ﷻ juga memuji akhlak Rasulullah ﷺ dalam firman-Nya:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) benar-benar berada di atas akhlak yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4)

Juga dalam firman-Nya:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
“Sungguh pada diri Rasulullah itu terdapat suri teladan yang baik bagi kalian, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat serta yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)


Empat Hadits Pokok Adab

Di antara sekian banyak riwayat tentang akhlak Nabi ﷺ, para ulama menyebutkan ada hadits-hadits inti yang menjadi pokok adab dan akhlak.

Imam Abdullah ibn Abi Zayd al-Qayrawani (w. 386 H), seorang ulama besar madzhab Malikiyah di Maghrib, menyatakan bahwa prinsip-prinsip akhlak dapat dirangkum dalam empat hadits utama. Ia berkata:

وَجِمَاعُ آدَابِ الْخَيْرِ وَأَزِمَّتُهُ تَفْرَعُ عَنْ أَرْبَعَةِ أَحَادِيثِ
“Seluruh adab kebaikan dan prinsip-prinsipnya bercabang dari empat hadits.”

1. Menjaga Lisan

Rasulullah ﷺ bersabda:

«مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ»
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no. 47)

Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan:

“Hadits ini sangat jelas menunjukkan bahwa seorang muslim tidak layak berbicara kecuali apabila ucapannya mengandung kemaslahatan. Apabila ia ragu, maka sebaiknya ia menahan diri.”

Hadits lain mempertegas pentingnya menjaga lisan:

  • Rasulullah ﷺ bersabda:

    «الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ»
    “Seorang muslim adalah yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya.”
    (HR. Muslim, no. 41)

    Artinya, seorang muslim sejati tidak menyakiti saudaranya dengan ucapan yang menyinggung hati, dan tidak pula berbuat zalim dengan tangannya seperti memukul, merampas, atau membunuh.

  • Rasulullah ﷺ juga bersabda:

    «مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ»
    “Barang siapa yang dapat menjamin bagiku apa yang ada di antara dua rahangnya (lisannya) dan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluannya), maka aku menjamin baginya surga.”
    (HR. al-Bukhari, no. 6474)

  • Dalam hadits lain, Rasulullah ﷺ memperingatkan:

    إِنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ، لاَ يُلْقِي لَهَا بَالًا، يَرْفَعُهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ، وَإِنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ، لاَ يُلْقِي لَهَا بَالًا، يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ

    “Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang diridhai Allah tanpa ia sadari, maka dengan kalimat itu Allah mengangkat derajatnya. Dan sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan murka Allah tanpa ia sadari, maka dengan kalimat itu ia dilemparkan ke dalam neraka Jahannam.”
    (HR. al-Bukhari, no. 6478; Muslim, no. 2988)

Karena itu, seorang muslim hendaknya berhati-hati dengan lisannya, tidak berbicara kecuali dengan kebaikan, dan menjauhi ucapan yang sia-sia atau menyakitkan.


2. Meninggalkan yang Tidak Bermanfaat

Rasulullah ﷺ bersabda:

«مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ»
“Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.”
(HR. at-Tirmidzi, no. 2318; Ibnu Hibban, no. 229)

Umur seorang muslim adalah modal berharga. Kehidupan akan bermakna apabila diisi dengan perkara yang membawa maslahat di dunia maupun akhirat. Oleh karena itu, seorang mukmin seharusnya selektif dalam ucapan dan perbuatan—apabila tidak bermanfaat, hendaknya ditinggalkan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ. احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجِزْ»
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya ada kebaikan. Bersemangatlah terhadap hal yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau lemah.”
(HR. Muslim, no. 2664)

Hadits ini menunjukkan bahwa ciri mukmin sejati adalah semangat mencari manfaat, bukan menyia-nyiakan waktu dengan hal yang sia-sia.


3. Mencintai Sesama Mukmin

Rasulullah ﷺ bersabda:

«لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ»
“Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.”
(HR. al-Bukhari, no. 13; Muslim, no. 45)

Allah ﷻ berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.”
(QS. Al-Hujurat: 10)

Ikatan ukhuwah dalam Islam dibangun di atas iman, bukan suku, bangsa, atau status sosial. Rasulullah ﷺ juga bersabda:

«ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ»
“Ada tiga perkara, barang siapa memilikinya maka ia akan merasakan manisnya iman: (1) Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, (2) mencintai seseorang hanya karena Allah, dan (3) benci kembali kepada kekafiran sebagaimana ia benci dilemparkan ke dalam api neraka.”
(HR. al-Bukhari, no. 16; Muslim, no. 43)


4. Menahan Amarah

Seorang sahabat meminta nasihat kepada Nabi ﷺ, maka beliau bersabda berulang kali:

«لَا تَغْضَبْ»
“Janganlah engkau marah.”
(HR. al-Bukhari, no. 6116)

Kalimat singkat yang keluar dari lisan Rasulullah ﷺ yang dikenal sebagai jawāmi‘ul kalim (ucapan yang ringkas namun penuh makna) adalah nasihat agar seorang hamba menjaga amarahnya. Seorang muslim hendaknya tidak menjadi orang yang mudah naik pitam dan gampang melampiaskan amarahnya, karena hal itu dapat menyebabkan ia keluar dari bimbingan Allah ﷻ.

Sesungguhnya amarah itu berasal dari setan. Ia dapat menjerumuskan seorang hamba ke dalam berbagai bentuk kemaksiatan. Dengan marah, seseorang bisa nekat melukai dirinya sendiri, mencelakai orang lain, bahkan membunuh. Dengan marah pula, seseorang bisa terjerumus pada banyak perbuatan maksiat yang dimurkai Allah ﷻ.

Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya senantiasa menjaga wasiat Rasulullah ﷺ: tidak membiasakan diri untuk marah dalam setiap permasalahan. Jangan sampai hanya karena tidak sepakat dalam satu perkara, lalu kita mudah tersulut emosi. Sesungguhnya itu adalah was-was dan godaan setan yang menjauhkan manusia dari bimbingan Allah ﷻ.

Rasulullah ﷺ pernah mencontohkan langsung sebagaimana diriwayatkan oleh Sulaiman bin Shurad radhiyallahu ‘anhu. Beliau berkata:

*“Suatu ketika kami duduk bersama Nabi ﷺ. Tiba-tiba ada dua orang yang saling mencela hingga wajah mereka memerah dan suara mereka meninggi. Maka Nabi ﷺ bersabda: ‘Sesungguhnya aku mengetahui satu kalimat. Seandainya ia mengucapkannya, niscaya amarah itu akan hilang darinya, yaitu: *A‘ūdzu billāhi minasy-syayṭānir-rajīm (Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk).’”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)

Mendengar sabda Nabi ﷺ, para sahabat lalu mendatangi kedua orang yang bertengkar itu dan menasihati: “Berta‘awudzlah kepada Allah dari setan.”

Selain itu, dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa menahan amarah padahal ia mampu melampiaskannya, maka Allah ﷻ akan memanggilnya pada hari kiamat di hadapan seluruh makhluk. Lalu Allah akan memberinya pilihan bidadari mana saja yang ia kehendaki.” 

(HR. Abu Dawud, no. 4777; at-Tirmidzi, no. 2021, dinyatakan hasan)

Betapa agung pahala yang Allah ﷻ siapkan bagi orang yang mampu menahan amarahnya.

 

Kesimpulan

Keempat hadits yang dihimpun oleh Imam al-Qayrawani merupakan pokok adab dalam Islam:

  1. Menjaga lisan dan kehormatan diri,

  2. Meninggalkan perkara yang sia-sia,

  3. Mencintai sesama mukmin karena Allah,

  4. Menahan amarah.

Barang siapa merenungi dan mengamalkan empat pokok ini, maka akan terjaga akhlaknya, bertambah imannya, dan istiqamah di atas agama Allah. Dari empat fondasi ini bercabang seluruh kebaikan dan kemuliaan dalam Islam.

===============================================================

Sumber : Khutbah Jum'at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Mu'awiyah Askary. 


Rujukan :

Kitab Risalah al-Qayrawani adalah karya Ibnu Abi Zayd al-Qayrawani



Untuk mendengarkan Khutbah Jum'atnya, bisa menuju link ini "Empat Prinsip Akhlak Seorang Muslim"

Posting Komentar untuk "Empat Prinsip Akhlak Seorang Muslim"