Makna Alhamdulillah dan Keagungan Nama-Nama Allah | Catatan Kajian al-Manzhumah al-Mimiyah (Part 2)

Pembukaan dengan Basmalah
Kitab ini dibuka dengan بسم الله الرحمن الرحيم sebagaimana kebiasaan para ulama menulis kitab mengikuti al-Qur’an dan sunnah Nabi ﷺ. Dan ini bagian dari adab ketika memulai menulis kitab.
Rasulullah ﷺ ketika menulis surat juga memulai dengan بسم الله الرحمن الرحيم .
Para ulama berbeda pendapat apakah basmalah ditulis di awal syair. Sebagian menganggap makruh, namun mayoritas membolehkannya, apalagi jika syair tersebut membahas ilmu sebagaimana dalam kitab ini.
Masuk ke bait Syair 1-6
Bait 1: Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam,
atas segala karunia-Nya, dan Dialah yang berhak atas segala pujian dan nikmat
Bait 2: Pemilik kerajaan dan kekuasaan, Yang Maha Esa, tempat bergantung,
Maha Dermawan, Maha Suci, yang memulai penciptaan dari ketiadaan.
Bait 3: Yang mengajarkan manusia apa yang tidak mereka ketahui sebelumnya,
dan denganmembuat mereka berbicara dengan "al Bayan" (kemampuan menerangkan), serta menulis dengan pena.
Bait 4: Kemudian, shalawat tercurah kepada Sang Terpilih, yang paling mulia,
yang diutus dengan petunjuk terbaik di tengah umat yang paling utama
Bait 5: (Begitu pula) kepada keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya,
serta yang mengikuti mereka dengan baik, di atas jalan mereka.
dan selama masih terhitung nafas-nafas semua makhluk yang ada di alam semesta.
Pembahasan 1
Makna Alhamdu & Ahlul Hamdi Wani’ami
Kata wahwa harus disukunkan hu-nya untuk mengikuti qofiah-nya: "Wahwa ahlul hamdi wan-ni‘am." Dialah Allah yang memiliki pujian dan segala nikmat.
Dari adab penulisan, seluruh pembukaan dimulai dengan memuji Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Rasulullah ﷺ juga demikian. Beliau sering memuji Allah, bertahmid, dan menyanjung-Nya dalam khutbah maupun nasihat.
Kata alhamdu menggunakan alif lam (al). Menurut para ulama, alif lam di sini bermakna al-istighraq (mencakup seluruh jenis pujian). Artinya, seluruh jenis pujian milik Allah Subhanahu wa Ta‘ala.
Makna Alhamd
Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa hamd adalah pemberitaan tentang kebaikan sesuatu yang dipuji, disertai kecintaan, penghormatan, dan pengagungan kepadanya. Dalam bahasa Indonesia, sering diterjemahkan sebagai "pujian" atau "sanjungan". Namun hamd lebih khusus, karena ia pujian yang terpilih, disertai cinta dan pengagungan.
Contoh: jika seseorang berkata, "Singa itu pemberani (al-asad syuja‘)." Itu bukan hamd, karena keberanian memang tabiat singa. Tidak ada cinta atau pengagungan di dalamnya. Sedangkan hamd selalu mengandung kecintaan dan penghormatan.
Maka, ketika seseorang mengucapkan "Alhamdulillah", ia sedang mempersembahkan pujian terindah kepada Allah, dengan penuh cinta, pengagungan, dan pembesaran.
Dua Bentuk "Hamd" Pujian
Pujian kepada Allah terbagi dua:
-
Pujian terhadap nama dan sifat-Nya.
-
Pujian terhadap nikmat dan karunia-Nya.
Pujian jenis pertama adalah bentuk pengagungan dan pembesaran kepada Rabbnya. Pujian jenis kedua adalah bentuk syukur. Karena itu, alhamdu adalah kesempurnaan pujian bagi Allah Subhanahu Wa Ta'ala/
Huruf lam dalam lillahi bermakna ikhtishash (pengkhususan) dan istihqaq (keberhakan). Artinya, pujian hanya milik Allah semata.
Ahlul Hamdi wan-Ni‘am
Allah adalah Ahlul Hamdi, Dzat yang paling berhak dipuji. Dia juga Ahlun-Ni‘am, pemilik segala nikmat.
Dalam doa yang diajarkan Nabi ﷺ ketika rukuk dan i‘tidal, kita membaca:
رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ مِلْءَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ، أَهْلَ الثَّنَاءِ وَالْمَجْدِ، أَحَقُّ مَا قَالَ العَبْدُ، وَكُلُّنَا لَكَ عَبْدٌ
(HR. Muslim dari Abu Sa‘id radhiyallahu ‘anhu)
Doa ini menegaskan bahwa Allah-lah yang paling berhak dipuji dan diagungkan, dan seluruh manusia adalah hamba-Nya.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala juga berfirman:
وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ
"Nikmat apa pun yang ada pada kalian, semuanya dari Allah" (QS. an-Nahl:53)
Pembahasan 2. Penjelasan Nama-Nama Allah
Setelah itu, penulis membahas sejumlah nama Allah Subhanahu wa Ta‘ala:
-
Allah – al-ismul a‘zham, nama teragung dari seluruh Asmaul Husna. Semua nama lain disandarkan kepadanya. Kata "Allah" bermakna al-ma‘bud hubban wa ta‘zhiman (bermakna: yang disembah dengan penuh cinta dan pengagungan).
-
Rabb Al 'Alamin – bermakna al-khaliq, ar-raziq, al-mudabbir lil-umur (yang mencipta, memberi rezeki, dan mengatur segala urusan). Al 'Alamin adalah jama' dari 'alam. Maknanya "Alam Semesta" . Rabbil 'Alamin artinya Rabb-nya alam semesta.
-
Dzil-Mulki – Maha Memiliki Kekuasaan. Dalam Al-Qur’an, Allah disebut Al-Malik, Al-Maalik, dan Al-Maliik, yang semuanya kembali kepada al Mulk, yang berarti Maha Memilik Kekuasaan. Di dalam Al Qur'an Surah Al Imran ayat 26:
قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَاءُ وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمَّن تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَن تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَن تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
"Katakanlah, wahai Allah, Pemilik kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada siapa yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kerajaan dari siapa yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa yang Engkau kehendaki, dan Engkau hinakan siapa yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mulah segala kebaikan. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu." -
Dzil-Malakut – bentuk mubalaghah dari al-mulk. Bermakna kekuasaan yang sangat luas. Lebih berlipat-lipat dari sekedar Al Mulk.
Tiga Makna Kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta‘ala
Kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta‘ala memiliki tiga kandungan makna yang harus dipahami seorang penuntut ilmu, khususnya terkait dengan nama dan sifat-sifat Allah.
Penetapan Sifat Kekuasaan
Makna pertama adalah penetapan sifat kekuasaan Allah yang terkandung di dalamnya kebesaran, keagungan, kesempurnaan, kekuatan, dan kemampuan.
Seluruh Makhluk adalah Milik-Nya
Makna kedua, bahwa seluruh makhluk adalah milik Allah dan hamba-Nya. Semuanya fakir kepada Allah, sementara Allah Maha Kaya dan Maha Terpuji.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ
"Wahai manusia, kalianlah yang fakir kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji."
(QS. Fathir: 15)Kehendak Allah Pasti Terlaksana
Makna ketiga, segala sesuatu yang Allah Subhanahu wa Ta‘ala inginkan pasti terlaksana. Tidak ada yang bisa menahan ketetapan-Nya.
Dialah yang memberi dan menahan, mengangkat dan merendahkan, melapangkan dan menyempitkan, menghidupkan dan mematikan, mengagungkan dan menghinakan. Semua berjalan sesuai dengan kehendak-Nya.
Tidak ada yang dapat menolak ketentuan-Nya, dan tidak ada yang bisa mengkritik hukum-Nya.
-
Al-Wahid – artinya Yang Maha Esa. Maksudnya, Allah bersendirian dengan segala sifat kesempurnaan dan keagungan.
Dari sisi sifat, baik sifat al-jalāl (keagungan) maupun sifat al-jamāl (keindahan), Allah bersendirian dengannya.
Sebagaimana Dia Maha Esa pada dzat-Nya, tidak ada yang menyerupai-Nya. Dia juga Maha Esa pada sifat-sifat-Nya, Maha Esa dalam perbuatan-Nya (tidak ada yang menjadi sekutu dalam kekuasaan-Nya), serta Maha Esa dalam uluhiyyah-Nya, yakni satu-satunya yang berhak diibadahi.
Jadi, Al-Wāhid adalah Yang Maha Esa, bersendirian dengan segala kesempurnaan. Itulah Allah Subhanahu wa Ta‘ala.
Allah berfirman:
قُلِ اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ ۖ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ
"Katakanlah: Allah-lah yang menciptakan segala sesuatu, dan Dia-lah Yang Maha Esa lagi Maha Menguasai."
(QS. Ar-Ra‘d: 16) -
Ash-Shamad – Nama agung ini bermakna bahwa seluruh makhluk bersandar kepada-Nya dalam segala hajat dan keperluannya.
Para ulama menjelaskan bahwa As-Shamad juga bermakna As-Sayyid al-Mu‘azzham (tuan yang diagungkan) atau Al-‘Azīm (yang maha agung). Allah sempurna dalam segala hal:
-
Sempurna dalam ilmu-Nya
-
Sempurna dalam hikmah-Nya
-
Sempurna dalam kekuatan-Nya
Dengan demikian, nama As-Shamad menunjukkan kesempurnaan Allah Subhanahu wa Ta‘ala dalam segala hal serta ketergantungan seluruh makhluk kepada-Nya. Ia juga menunjukkan bahwa Allah sama sekali tidak memiliki kekurangan.
Nama As-Shamad hanya disebut satu kali dalam Al-Qur’an, yaitu dalam Surah Al-Ikhlāṣ.
Allah berfirman:
اللَّهُ الصَّمَدُ
"Allah tempat bergantung segala sesuatu."
(QS. Al-Ikhlāṣ: 2)Surah ini memiliki keutamaan yang sangat besar, bahkan membaca Surah Al-Ikhlas dinilai seperti membaca sepertiga dari Al-Qur’an.
-
-
Al-Barr – Nama ini menunjukkan bahwa Allah Maha Luas pemberian-Nya, rahmat-Nya, dan kedermawanan-Nya.
Ketika penduduk surga ditanya mengapa mereka berada di dalam surga, mereka menjawab bahwa di dunia dahulu mereka selalu beribadah kepada Allah. Allah menegaskan dalam firman-Nya:
إِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيمُ
"Sesungguhnya Dialah Yang Maha Baik lagi Maha Penyayang."
(QS. At-Thur: 28)Makna Al-Barr mencakup segala bentuk nikmat Allah, baik yang Zhahir (terlihat) maupun yang batin (tersembunyi). Tidak ada satu pun makhluk yang keluar dari rahmat, kebaikan, dan kedermawanan Allah Subhanahu wa Ta‘ala.
Dengan memahami nama agung ini, seorang hamba semakin sadar bahwa segala kenikmatan yang ia rasakan—baik kecil maupun besar—semuanya berasal dari kemurahan dan kasih sayang Allah.
-
Al-Muhaimin – Yang Maha Mengawasi, mengetahui segala yang tersembunyi.
-
Mubdi‘ul Khalqi min ‘Adam – yang mengadakan makhluk dari ketiadaan.
Posting Komentar untuk "Makna Alhamdulillah dan Keagungan Nama-Nama Allah | Catatan Kajian al-Manzhumah al-Mimiyah (Part 2)"