Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Definisi dan Jenis-Jenis Thaharah | Catatan Kajian Matan Abi Syuja' (Part 3)

 


Pembagian Kitab Fikih Menurut Fuqaha

Para fuqaha (rahimahumullah) membagi kitab fikih menjadi empat bagian besar:

  1. Kitāb al-‘Ibadat (ibadah), meliputi shalat, puasa, zakat, haji.

  2. Kitāb al-Mu‘amalat (muamalah), mengatur jual beli, sewa, hutang, dll.

  3. Kitāb al-Ankihah (pernikahan), meliputi hukum pernikahan dan segala yang terkait.

  4. Kitāb al-Jinayat (pidana), hukum yang berkaitan dengan tindak kriminal.

Kenapa dimulai dengan ibadah? Karena ibadah adalah kebutuhan primer seorang hamba. Setelah itu baru muamalah (kebutuhan makan-minum), kemudian pernikahan (biologis), lalu terakhir jinayat.


Dasar Penyusunan Bab ‘Ibadat

Para fuqaha’ menempatkan ibadah sesuai dengan hadits dari Ibnu ‘Umar -radhiallahu 'anhu:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ:
«بُنِيَ الإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ، وَحَجِّ الْبَيْتِ»

Islam itu dibangun di atas lima dasar: persaksian (syahadat) bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah subhanahu wa ta’ala dan Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji (ke Baitullah) dan puasa di bulan Ramadhan.” Muttafaq ‘alaih

Syahadat masuk dalam pembahasan aqidah, maka dimulai dari Kitabus Shalah. Namun, syarat sah shalat adalah thaharah, sehingga para fuqaha’ selalu memulai kitab fikih dengan Kitab ath-Ṭhaharah.


Definisi Taharah

Secara Bahasa

الطَّهَارَةُ secara bahasa bermakna النَّظَافَةُ (kebersihan).

Secara Istilah

Imām al-Nawawi (رحمه الله) berkata dalam al-Majmu'

الطَّهَارَةُ هِيَ: رَفْعُ الْحَدَثِ، وَزَوَالُ الْخَبَثِ، وَمَا فِي مَعْنَاهُمَا

Thaharah adalah perbuatan mengangkat hadats, menghilangkan najis, dan yang semakna dengan keduanya.


Jenis-Jenis Thaharah

1. Mengangkat Hadats

Hadats ada dua:

  • Hadats kecil (أَصْغَر) – diangkat dengan wudhu.

  • Hadats besar (أَكْبَر) – diangkat dengan mandi janabah.

Pengganti keduanya adalah tayammum.

2. Menghilangkan Najis

Najis dihilangkan dengan air, kadang juga dibantu dengan tanah (misalnya dalam najis anjing).

Bentuk penghilangan najis ada yang khusus, seperti istinja’, dan ada yang umum, seperti mencuci pakaian yang terkena najis. Secara umum menggunakan air, dan adapula dengan pelengkap seperti menggunakan tanah pada permasalahan jilatan anjing.

3. Semakna dengan Mengangkat Hadats

Maksudnya, memilik tujuan yang sama dengan mengangkat hadats. Apa saja tujuan mengangkat hadats? Tujuan utamanya adalah membolehkan seseorang untuk shalat, meskipun tidak mengangkat hadats.

Contoh:

  • Tayammum – meski tidak mengangkat hadats, namun membolehkan shalat.

  • Tajdid al-Wudhu (memperbarui wudhu), meskipun wudhu sebelumnya belum batal.

4. Semakna dengan Menghilangkan Najis

Maksudnya, memilik tujuan yang sama dengan membersihkan najis. Apa saja tujuan mengangkat hadats? Tujuan utamanya adalah membolehkan seseorang untuk shalat.


Contoh:

  • Istinja’ dengan batu, tidak menghilangkan najis secara total, tapi membolehkan shalat.

  • Istihalah (perubahan zat), misalnya menyamak kulit bangkai sehingga menjadi suci.


Maqaṣhid dan Wasa-il Thaharah

Para fuqaha’ menyatakan thaharah memiliki empat maqaṣhid (tujuan pokok) dan empat wasa-il (alat):

Empat Maqashid Thaharah:

  1. Wudhu (الوُضُوء)

  2. Mandi (الغُسْل)

  3. Tayammum (التَّيَمُّم)

  4. Menghilangkan Najis (إِزَالَةُ الْخَبَث)

Empat Wasā’il Ṭahārah:

  1. Air (المَاء)

  2. Tanah (التُّرَاب)

  3. Batu istinjā’ (الحَجَر) atau pengganti seperti tisu

  4. Bahan penyamak kulit bangkai (الدابغ)

Dari semua ini, yang paling utama adalah air, karena air menjadi dasar utama thaharah.


Metode Penulisan Ulama Fikih

Dalam penyusunan kitab, terdapat perbedaan antara dua madrasah besar dalam mazhab Syāfi‘ī:

  • Thariqat al-'Iraqiyyin – membagi kitab menjadi kitāb lalu pecah ke dalam faṣhl.

  • Thariqat al-Khurasaniyyin – langsung menggunakan faṣhl tanpa istilah kitāb.

Abū Syuja‘ (رحمه الله) berasal dari Bashrah (Irak), sehingga beliau mengikuti metode ‘Iraqiyyin. Maka kita dapati dalam Matan Abu Syuja’ ada judul seperti Kitāb ath-Thaharah, lalu dipecah lagi menjadi fashl-fashl.

Insya Allah lanjut di catatan selanjutnya.. Semoga Allah mudahkan

=================================================================

Ini adalah catatan kajian dari penjelasan kitab Mukhtashar Abi Syuja’, yang juga dikenal dengan nama Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib, karya Al-Imam Abi Syuja’ Asy-Syafi’i rahimahullahu ta’ala. Yang disampaikan oleh Ustadz Muh Arvan Amal di Channel Whatsapp Manarul Ilmi Learning Circle (Klik untuk menuju ke Channel).

Posting Komentar untuk "Definisi dan Jenis-Jenis Thaharah | Catatan Kajian Matan Abi Syuja' (Part 3)"