Muqaddimah Matan Abi Syuja' | Catatan Kajian Matan Abi Syuja' (Part 2)
Pendahuluan
Amma ba’du, Qadhi Abu Syuja’ Ahmad bin Al-Husain bin Ahmad Al-Asfahani Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: Sebagian sahabatku, semoga Allah menjaga mereka – meminta kepadaku agar menyusun ringkasan fikih menurut mazhab Imam Asy-Syafi’i rahimahullah dengan sangat ringkas dan sederhana, serta terbagi dalam bagian-bagian agar mudah dipelajari dan dihafal. Maka aku kabulkan permintaan itu, dengan mengharap pahala dari Allah Ta’ala, bertawakal kepada-Nya, dan memohon agar Dia memberi taufik kepadaku menuju keridhaan-Nya. Sesungguhnya Dia Mahakuasa atas apa yang Dia kehendaki dan Maha Lembut lagi Maha Mengetahui terhadap hamba-hamba-Nya.
Imam Abu Syuja memulai karyanya sebagaimana kebiasaan para ulama dengan basmalah, hamdalah, serta shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarganya, dan para sahabatnya.
Beliau berkata:
بسم الله الرحمن الرحيم، الحمد لله رب العالمين، وصلى الله وسلم على سيدنا محمد خاتم النبيين وعلى آله وصحبه أجمعين
Kebiasaan ulama memulai karya dengan basmalah adalah mengikuti Al-Qur’an dan sunnah Nabi ﷺ, di mana surat-surat beliau juga dimulai dengan basmalah. Setelah itu diikuti dengan hamdalah serta shalawat dan salam kepada Rasulullah ﷺ.
Para ulama menyebutkan bahwa dalam mukadimah karya tulis atau ceramah terdapat empat hal pokok yang dianjurkan: basmalah, hamdalah, shalawat, dan salam.
Hukum Membaca Basmalah
Para fuqaha rahimahumullah membahas hukum basmalah di awal kitab. Mereka menyatakan bahwa hukum membaca basmalah bisa berbeda sesuai kondisi:
-
Wajib, ketika membaca Al-Fatihah dalam salat, karena basmalah adalah ayat pertama dari Al-Fatihah, sedangkan Al-Fatihah merupakan rukun salat.
-
Sunnah – dalam setiap perkara penting. Nabi ﷺ bersabda:
كل أمر ذي بال لا يبدأ فيه ببسم الله فهو أبتر
"Setiap perkara penting yang tidak dimulai dengan bismillah maka ia terputus (kurang berkah)."Hadis ini ada yang menghasankan dan ada yang mendhaifkan. Namun karena termasuk dalam fadha’ilul a’mal (Fadilah Amal), maka para ulama (jumhur) membolehkannya.
-
Makruh, apabila dibaca sebelum melakukan amalan makruh. Contohnya, jual beli setelah azan pertama pada hari Jumat hingga azan kedua, hukumya makruh. Maka membaca basmalah sebelum melakukan jual beli tersebut hukumnya makruh juga.
-
Haram, jika dibaca sebelum melakukan perbuatan yang haram, seperti minum khamar. Membaca basmalah dalam kondisi ini adalah haram.
Empat Hal yang Dianjurkan dalam Mukadimah Karya
Selain empat hal pokok (basmalah, hamdalah, shalawat, dan salam), para ulama juga menyebutkan empat hal lain yang dianjurkan dalam mukadimah karya tulis:
-
Menyebutkan nama penulis.
-
Menuliskan judul kitab.
-
Memberikan bara’atul istihlal, yaitu mukadimah yang mencerminkan isi buku.
-
Menjelaskan sababut ta’lif, yakni sebab penulisan karya.
Abu Syuja rahimahullah menuliskan namanya:
أبو شجاع أحمد بن الحسين بن أحمد الأصفهاني الشافعي
Kemudian beliau menyebutkan sebab penulisan kitab:
سألني بعض الأصدقاء حفظهم الله تعالى أن أعمل مختصراً في الفقه على مذهب الإمام الشافعي رحمه الله تعالى
"Sebagian sahabatku – semoga Allah menjaganya – memintaku untuk menulis sebuah kitab ringkas dalam fikih menurut mazhab Imam Asy-Syafi’i rahimahullah."
Beliau menulis bukan karena harta atau popularitas, tetapi murni karena permintaan dan kebutuhan umat. Hal ini menjadi sebab keberkahan kitab Matan Abi Syuja.
Definisi Mukhtasar
Dalam penjelasannya, Imam Abu Syuja menyebut kitab ini sebagai mukhtasar. Definisi mukhtasar adalah:
ما قل لفظه
"Sesuatu yang sedikit lafaznya."
Sebagian ulama menambahkan:
ما قل لفظه وكثر معناه
"Sesuatu yang sedikit lafaznya namun banyak maknanya."
Tujuan Penulisan Matan Abi Syuja
Abu Syuja rahimahullah menyebutkan tujuan kitabnya:
في غاية الاختصار ونهاية الإيجاز ليقرب على المتعلم درسه وعلى المبتدئ حفظه
"(Kitab ini) ditulis dengan sangat ringkas agar mudah dipelajari oleh penuntut ilmu dan mudah dihafal oleh pemula."
Para ulama berkata:
الكلام يُختصر للحفظ ويُبسط للفهم
"Ucapan diringkas agar mudah dihafal, dan diperluas agar mudah dipahami."
Matan Abi Syuja memiliki keistimewaan berupa banyaknya pembagian (taqsimat) dan pembatasan (hasrul khisal) yang jelas. Misalnya, penyebutan jumlah rukun wudhu atau jumlah rukun salat dengan angka tertentu. Hal ini sangat memudahkan pemula dalam memahami dan menghafal permasalahan fikih.
Nisbat Imam Asy-Syafi’i
Imam Abu Syuja menegaskan bahwa kitab ini ditulis berdasarkan mazhab Imam Asy-Syafi’i, Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i rahimahullah.
Nama lengkap Imam Asy-Syafi’i adalah محمد بن إدريس بن العباس بن عثمان بن شافع بن السائب. Nisbat "Asy-Syafi’i" dinisbatkan kepada kakek beliau, Syafi’, seorang sahabat Nabi ﷺ.
Ada juga ulama yang berpendapat bahwa nisbat tersebut digunakan sebagai bentuk tafa’ul (optimisme) agar mendapatkan syafaat kelak di hari kiamat.
Penutup Mukadimah
Abu Syuja rahimahullah menutup mukadimahnya dengan doa:
فأجبتُه إلى ذلك راغباً في ثواب الله تعالى معتمداً عليه، سائلاً أن يوفقني للحق إنه على ما يشاء قدير وبعباده لطيف خبير
Namun sebagian ulama mengoreksi kalimat: إنه على ما يشاء قدير (Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas sesuatu yang Dia kehendaki). Sebab, yang lebih tepat adalah kalimat Al-Qur’an:
إِنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (البقرة: 20)
"Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."
Karena kudrah (kemampuan) Allah tidak hanya terbatas pada apa yang Dia kehendaki, tetapi meliputi segala sesuatu.

Posting Komentar untuk "Muqaddimah Matan Abi Syuja' | Catatan Kajian Matan Abi Syuja' (Part 2)"